Label:

Bab 6 'Keberhasilan' Tobias Gregson

0 komentar


Bab 6 'Keberhasilan' Tobias Gregson



Keesokan harinya berita tentang pembunuhan di Lauriston Gardens memenuhi koran-koran. Masing-masing koran mengulas kasus yang mereka sebut "Misteri Brixton" itu secara panjang-lebar, bahkan ada yang menyajikannya sebagai berita utama. Aku memperoleh beberapa informasi baru dari berita-berita itu. Inilah ringkasan kliping-kliping yang kukumpulkan tentang kasus tersebut: 

Daily Telegraph memberi komentar bahwa dalam sejarah kejahatan, jarang sekali ada pembunuhan yang ciri-cirinya lebih aneh dari pembunuhan ini. Nama korban yang berbau Jerman, tidak adanya motif perampokan atau motif-motif lain, dan kata yang tertulis di dinding, semuanya mengisyaratkan keterlibatan pelarian politik dan kaum sosialis Jerman. Sosialisme Jerman memiliki banyak pengikut di Amerika. Tak diragukan lagi bahwa korban telah melanggar hukum tidak tertulis mereka dan karena itu harus disingkirkan. Selah menyinggung teori-teori hebat seperti Vehmgericht, Darwin, dan Malthus, serta mengungkit-ungkit pembunuhan di Ratcliff Highway, penulis artikel tersebut mengecam pemerintah dan menuntut agar dilakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap orang asing di Inggris. 

Standard berpendapat bahwa pembunuhan keji seperti ini biasanya timbul dalam pemerintahan liberal. Ketidakpuasan masyarakat dan pemerintah rang lemah berakumulasi pada tindak kriminal yang melampaui batas. Menurut penyelidikan, korban adalah warga negara Amerika yang sudah beberapa minggu tinggal di London. Ia menginap di tempat kos Madame Charpentier, di Torquay trrace, Camberwell. Dalam perjalanannya, korban ditemani sekretaris pribadinya, Mr. Joseph Stangerson. Keduanya mengucapkan selamat berpisah kepada induk semang mereka pada hari Selasa, tanggal 4, dan berangkat ke Stasiun Euston dengan niat menumpang kereta Liverpool Express. Ada saksi mata yang melihat mereka di peron, tapi setelah itu kedua orang tersebut tak kedengaran lagi beritanya sampai mayat Mr. Drebber ditemukan di sebuah rumah kosong di Brixton Road, berkilo-kilometer jauhnya dari Euston. Bagaimana ia bisa berada di sana, atau bagaimana hidupnya berakhir, masih merupakan misteri. Begitu pula tentang keberadaan Stangerson. Syukurlah, kasus ini ditangani oleh Mr. Lestrade dan Mr. Gregson, dua detektif andalan Scotland Yard, dan kita boleh berharap mereka akan segera memecahkannya. 

Daily News mengamati bahwa kasus kejahatan ini bersifat politis. Kebencian terhadap Liberalisme yang mewarnai pemerintahan Inggris, menyebabkan kita kehilangan sejumlah orang yang mestinya dapat menjadi warga negara teladan. Para penganut Liberalisme ini mempunyai peraturan-peraturan sendiri, yang bila dilanggar berarti hukuman mati. Polisi harus segera menemukan sekretaris korban, Stangerson, untuk mendapat informasi yang lebih rinci tentang korban. Beruntung, ketekunan Mr. Gregson, detektif Scotland Yard, membuahkan hasil. Beliau telah memperoleh alamat penginapan Stangerson. 

Holmes tampak geli ketika membaca artikel-artikel itu bersamaku saat sarapan. 

"Sudah kubilang, Watson, apa pun yang terjadi, pasti Lestrade dan Gregson yang mendapat pujian." 

"Belum tentu, tergantung bagaimana akhirnya nanti." 

"Ah, kau masih tak mengerti. Jika si pembunuh tertangkap, itu dianggap karena usaha mereka. Jika si pembunuh berhasil meloloskan diri, itu akan dimaklumi karena mereka dianggap sudah berusaha keras. Bagaimanapun akhirnya nanti, kedua detektif itu akan selalu menang. Itu kenyataan..." 

"Hei, ada apa itu?" seruku, mendengar bunyi langkah-langkah kaki yang ribut di lorong dan di tangga, ditimpali oleh seruan-seruan jengkel induk semang kami. 

"Itu satuan detektif polisi divisi Baker Street," kata temanku dengan nada serius. Sementara ia rerbicara, masuklah "satuan detektif polisi" itu, yaitu setengah lusin anak jalanan yang paling kotor dan paling lusuh yang pernah kulihat. 

"Siap!" Holmes memberi aba-aba, dan keenam berandal cilik itu berdiri berjajar bagaikan sederet patung. "Lain kali, Wiggins saja yang melapor, dan yang lainnya menunggu di jalan, mengerti? Kau sudah menemukannya, Wiggins?" 

"Belum, Sir," jawab yang ditanya. 

"Sudah kudugai. Kalian harus terus berusaha sampai menemukannya. Ini upah kalian." Holmes memberi mereka masing-masing satu shilling. "Sekarang pergilah, dan kembalilah dengan laporan yang lebih baik." 

"Pengemis-pengemis kecil ini dapat memperoleh lebih banyak informasi daripada selusin polisi," kata Holmes padaku. "Melihat sosok polisi saja semua orang sudah menutup mulut. Tapi bocah-bocah ini bisa pergi ke mana saja dan mendengarkan percakapan apa saja. Mereka juga sangat cerdas, hanya perlu diorganisir." 

"Kau mempekerjakan mereka untuk kasus Brixton?" tanyaku. 

"Ya, ada satu hal yang ingin kupastikan. Aku akan mendapatkan informasi itu, kau tunggu saja. Wah, lihat itu! Gregson sedang menyusuri jalan dengan ekspresi penuh kemenangan! Dia pasti akan ke tempat kita... benar, dia berhenti. Itu dia!" 

Bel pintu berdentang, dan beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki detektif itu menaiki tangga, tiga anak tangga sekaligus. Gregson menghambur masuk ke ruang duduk kami dengan penuh semangat. 

"Temanku yang baik!" serunya sambil mengguncang-guncang tangan Holmes, sementara temanku tidak bereaksi. "Beri aku selamat! Aku sudah mengungkapkan semuanya hingga tuntas!" 

Kegelisahan melintas di wajah temanku. 

"Maksudmu kau sudah berada di jalur yang benar?" tanyanya. 

"Jalur yang benar! Bukan hanya itu! Kami sudah menangkap dan menahan pelakunya!" 

"Siapa dia?" 

"Arthur Charpentier, letnan dua di Angkatan Laut Kerajaan," jawab Gregson dengan sikap sok. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya yang gemuk dan membusungkan dadanya. 

Holmes mendesah lega dan tersenyum. 

"Duduklah dan cicipi cerutunya," ia menyilakan. "Kami sangat ingin tahu bagaimana kau bisa menangkap orang itu. Kau mau minum whisky?" 

"Terima kasih, aku memang membutuhkannya. Kerja kerasku selama satu-dua hari ini benar-benar menguras tenaga. Bukan tenaga fisik, tapi lebih banyak pikirannya. Kau tentu mengerti, Mr. Sherlock Holmes, karena kita berdua adalah pekerja otak." 

"Kau terlalu memujiku," kata Holmes seakan bersungguh-sungguh. "Coba ceritakan, bagaimana kau mendapatkan hasil ini." 

Gregson duduk di kursi berlengan, mengisap cerutu dengan ekspresi puas. Lalu tiba-tiba, ia menampar pahanya dengan gembira. 

"Yang lucu," serunya, "adalah si bodoh Lestrade itu, yang mengira dirinya cerdas. Dia mengikuti jejak yang salah sama sekali. Dia memburu Stangerson, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembunuhan ini. Aku yakin sekarang dia sudah menangkap Stangerson." 

Hal itu rupanya membuat Gregson begitu geli sehingga ia tertawa sampai tersedak. 

"Bagaimana caramu mendapatkan petunjuk?" tanya Holmes. 

"Ah, akan kuceritakan semuanya. Tentu saja, Dr. Watson, ini hanya di antara kita. Nah, kesulitan pertama yang kami hadapi adalah bagaimana menemukan alamat serta latar belakang korban. Detektif-detektif lain pasti hanya akan memasang iklan dan menunggu jawabannya, atau menunggu sampai ada orang datang menyampaikan informasi secara sukarela. Namun bukan begitu cara kerja Tobias Gregson. Kalian ingat topi yang tergeletak di samping mayat korban?" 

"Ya," kata Holmes, "buatan John Underwood and Sons, Camberwell Road No. 129." 

Gregson tertegun. 

"Aku tidak tahu kalau kau menyadarinya," katanya. "Kau sudah ke sana?" 

"Belum." 

"Ha!" seru Gregson lega. "Seharusnya kau tidak melewatkan kesempatan, betapapun kecilnya." 

"Bagi pikiran yang luas, tidak ada apa pun yang kecil," komentar Holmes. 

"Nah, aku mengunjungi Underwood," lanjut Gregson. "Aku bertanya apakah dia pernah menjual topi dengan ukuran serta ciri-ciri topi korban. Underwood memeriksa catatannya dan seketika menemukannya. Dia mengirimkan topi itu kepada Mr. Drebber yang tinggal di Tempat Kos Charpentier, Torquay Terrace. Begitulah, aku mendapatkan alamat korban." 

"Cerdik... sangat cerdik!" gumam Holmes. 

"Aku melanjutkan penyelidikanku dan pergi ke Tempat Kos Charpentier. Kulihat Madame Charpentier dalam keadaan pucat dan tertekan. Putrinya juga ada di sana—gadis yang sangat menawan, tapi matanya merah dan bibirnya gemetar sewaktu aku berbicara dengannya. Tentu saja hal itu tak luput dari pengamatanku. Aku lulai mencium sesuatu yang mencurigakan. Kau tahu perasaan itu, Mr. Sherlock Holmes. Saat menemukan jejak yang benar, semangat kita bagai terbakar. 'Kalian sudah mendengar tentang kematian misterius Mr. Enoch J. Drebber?' tanyaku. 'Pria Amerika itu menyewa kamar di sini, bukan?' 

"Madame Charpentier mengangguk. Wanita itu tampaknya tidak mampu berbicara. Putrinya tiba-tiba menangis. Aku semakin yakin kalau orang-orang ini tahu tentang pembunuhan tersebut. 

"'Pukul berapa Mr. Drebber meninggalkan rumah untuk menuju stasiun kereta?' tanyaku. 

"'Pukul delapan,' sahut Madame Charpentier, sambil menelan ludah dengan susah payah seolah-olah ingin menenangkan diri. 'Sekretarisnya, Mr. Stangerson, mengatakan bahwa ada dua kereta— pukul 9.15 dan pukul 11.00. Mr. Drebber berniat naik kereta yang pertama.' 

"'Dan itu terakhir kali kalian bertemu dengannya?' 

"Wajah Madame Charpentier jadi pucat pasi ketika dia mendengar pertanyaan itu. Dia me-merlukan waktu beberapa detik sebelum menjawab singkat, 'Ya.' Saat berbicara, suaranya pelan dan tidak wajar. 

"Sejenak kami semua terdiam, lalu putri Madame Charpentier berbicara dengan suara tenang dan jelas. 

"'Tak ada gunanya berbohong, Ibu,' katanya. 'Lebih baik kita bersikap jujur pada tuan ini. Kita memang bertemu lagi dengan Mr. Drebber.' 

"'Demi Tuhan, Alice!' seru Madame Charpentier, sambil melontarkan tangannya ke atas dan me-rosot di kursinya. 'Kau membunuh kakakmu.' 

"'Arthur pasti lebih suka kita mengungkapkan yang sebenarnya,' jawab gadis itu tegas. 

"'Sebaiknya kalian ceritakan semuanya sekarang,' tukasku. 'Informasi separo-separo lebih buruk daripada tidak memberi informasi sama sekali. Lagi pula, kalian tidak tahu seberapa banyak yang sudah kami ketahui.' 

"'Alice, kau yang harus menanggung akibatnya!' seru Madame Charpentier menyesali putrinya. Berpaling padaku, ia lalu berkata, 'Akan saya ceritakan semuanya, Sir. Saya mencemaskan nasib anak laki-laki saya, namun itu bukan karena dia bersalah. Saya hanya takut Anda dan orang-orang lain menganggap dia terlibat dalam pembunuhan itu, padahal kenyataannya tidak demikian. Sifat-sifat anak saya, latar belakangnya, pekerjaannya... semua membuktikan dia tak mungkin melakukan kejahatan itu.' 

"'Sebaiknya Anda berterus terang,' ujarku. Kalau putra Anda memang tak bersalah, dia tentu tak akan ditangkap.' 

"'Mungkin, Alice, lebih baik kautinggalkan kami berdua,' kata Madame Charpentier, dan putrinya meninggalkan ruangan. 'Baiklah, Sir,' lanjut Madame Charpentier, 'saya sama sekali ridak berniat menceritakan semua ini, tapi karena putri saya sudah menyinggungnya, saya tidak memiliki pilihan lain. Akan saya ungkapkan seluruh kejadiannya tanpa melewatkan satu rincian pun.' 

"'Itu tindakan yang paling bijak,' kataku. 

"'Mr. Drebber sudah menginap di tempat kami selama hampir tiga minggu. Dia dan sekretarisnya, Mr. Stangerson, sedang melakukan perjalanan keliling Eropa. Sebelum ke London, mereka rupanya pergi ke Copenhagen... saya melihat label kota itu pada koper-koper mereka. Stangerson pria yang pendiam dan tertutup, tapi bosnya, tidak enak bagi saya untuk mengatakan-nya, jauh berbeda. Mr. Drebber orangnya kasar dan tak tahu sopan santun. Ketika tiba di sini, dia mabuk berat, dan di hari-hari selanjutnya jarang kami melihatnya dalam keadaan sadar, baik siang maupun malam. Sikapnya terhadap para pelayan wanita sangat tidak sopan, begitu pula terhadap putri saya Alice. Bukan satu-dua kali dia mengatakan hal-hal yang tak pantas kepada putri saya itu. Untungnya, Alice terlalu polos untuk memahami ucapan-ucapan yang kurang ajar itu. Terakhir, dia malah memeluk putri saya—tindakan yang begitu lancang sehingga sekretarisnya sendiri menegurnya.' 

"'Tapi kenapa Anda mendiamkan semua ini?' tanyaku. 'Anda kan bisa mengusir mereka.' 

"Wajah Madame Charpentier memerah mendengar pertanyaanku itu. 'Sejak hari pertama saya sudah ingin mengusir mereka,' akunya. 'Tapi saya tergoda oleh uang yang mereka bayarkan. Satu pound sehari per orang... berarti empat belas pound seminggu, dan ini musim sepi. Saya seorang janda, sementara putra saya yang di Angkatan Laut masih memerlukan biaya. Demi uang, saya terpaksa menahan diri. Tapi tindakan Mr. Drebber yang terakhir itu sudah keterlaluan, dan saya mengusirnya. Itu sebabnya dia pergi dari sini.'

"'Lalu?' 

"'Hati saya terasa ringan sewaktu melihatnya pergi. Putra saya sedang cuti, tapi saya tidak menceritakan masalah ini padanya. Dia gampang naik darah, dan dia sangat menyayangi adiknya. Sayangnya, kelegaan saya tak berumur panjang. Kurang dari satu jam kemudian bel berbunyi, dan Mr. Drebber datang lagi. Dia sangat bersemangat, dan jelas sangat mabuk. Dia memaksa masuk ke dalam ruangan tempat saya dan Alice sedang duduk, dan dia berceloteh tidak jelas tentang tertinggal kereta. Di depan mata saya, dia nekat mengajak Alice pergi bersamanya. 'Usiamu sudah cukup," katanya, "dan tidak ada hukum yang melarangmu. Aku punya banyak uang. Jangan pedulikan nenek tua ini, ikutlah denganku sekarang juga. Kau akan hidup seperti putri." Alice yang malang begitu ketakutan hingga mengerut menjauhinya, tapi dia menangkap pergelangan tangan Alice dan hendak menyeretnya ke pintu. Saya menjerit, dan pada saat itu putra saya Arthur masuk ke dalam ruangan. Apa yang terjadi sesudah itu saya tidak tahu. Saya mendengar sumpah serapah dan suara orang diseret. Saya terlalu takut untuk mengangkat kepala. Sewaktu akhirnya saya menengadah, saya melihat Arthur berdiri di ambang pintu sambil membawa sebatang tongkat. "Kurasa orang itu tidak akan mengganggu kita lagi," katanya tertawa. "Aku akan mengejarnya dan melihat apa yang dilakukannya sekarang." Arthur mengambil topi dan berjalan ke luar. Keesokan paginya, kami mendengar tentang kematian Mr. Drebber yang misterius.' 

"Kisah ini dituturkan Madame Charpentier dengan banyak sela. Terkadang dia bicara begitu pelan sehingga aku hampir-hampir tidak bisa mendengar kata-katanya. Tapi aku mencatatnya dengan steno, jadi tidak mungkin ada kesalahan." 

"Benar-benar menarik," kata Sherlock Holmes sambil menguap. "Apa yang terjadi selanjutnya?" 

"Sewaktu Madame Charpentier diam sejenak," lanjut sang detektif, "aku menyadari bahwa seluruh kasus ini tergantung pada satu hal. Sambil menatapnya tajam dan lurus—hal yang menurut pengalamanku sangat efektif terhadap wanita— kutanyakan pukul berapa putranya pulang. 

"'Entahlah,' jawabnya. 

"'Anda tidak tahu?' 

"'Tidak, Arthur memiliki kunci rumah, dan dia masuk sendiri.' 

"'Sesudah Anda tidur?' 

"'Ya.' 

"'Pukul berapa Anda tidur?' 

"'Sekitar pukul sebelas.' 

"'Jadi putra Anda pergi paling sedikit selama dua jam?' 

"'Benar.' 

"'Mungkin empat atau lima jam?' 

"'Bisa saja.' 

"'Apa yang dilakukannya selama itu?' 

"'Saya tidak tahu,' jawab Madame Charpentier dengan gemetar. 

"Semua sudah jelas. Letnan Charpentier terlibat dalam pembunuhan Mr. Drebber. Kutanyakan di mana pemuda itu berada, dan bersama dua petugas, aku menangkapnya. Ketika aku menyentuh bahunya sambil memperingatkan agar dia mengikuti kami tanpa keributan, pemuda itu menjawab dengan berani, 'Kalian pasti menangkapku karena kematian si keparat Drebber itu!' Kami belum mengatakan apa-apa tentang itu, jadi kata-katanya sangat mencurigakan." 

"Sangat," kata Holmes setuju. 

"Letnan Charpentier masih membawa tongkat vang menurut cerita ibunya, dibawanya ketika mengikuti Drebber. Tongkat itu terbuat dari kayu ek dan cukup kokoh." 

"Lalu, apa teorimu?" 

"Menurutku, kejadiannya begini: Letnan Charpentier mengikuti Drebber hingga ke Brixton Road. Di sana mereka bertengkar dan Charpentier memukul Drebber dengan tongkat, mungkin di ulu hati, sehingga Drebber tewas tanpa meninggalkan luka. Karena malam itu hujan, jalanan sepi. Charpentier dengan leluasa menyeret mayat korban ke rumah kosong. Mengenai lilin, cincin, darah, dan tulisan di dinding, semua mungkin sekadar tipuan agar polisi melacak jejak yang salah." 

"Bagus sekali!" Holmes memuji. "Sungguh, Gregson, kau sudah mengalami banyak kemajuan. Kau akan menjadi detektif yang hebat." 

"Aku memang bangga karena berhasil memecahkan kasus ini," jawab sang detektif. "Arthur Charpentier sudah memberikan pernyataan. Katanya, dia mengikuti Drebber selama beberapa waktu, tapi Drebber lalu sadar dirinya dibuntuti dan melarikan diri dengan taksi. Menurut penga-kuan Charpentier, setelah itu dia berjalan pulang, tapi kebetulan bertemu bekas teman sekapalnya. Mereka berdua pergi berjalan-jalan cukup jauh. Sewaktu kami bertanya di mana temannya itu tinggal, Charpentier tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kupikir kasus ini sudah selesai, Charpentierlah pembunuhnya, semua faktanya cocok. Aku benar-benar geli kalau teringat pada Lestrade yang melacak jejak yang salah. Aku yakin dia tidak berhasil mendapatkan banyak petunjuk di sana. Astaga, ini dia orangnya!" 

Memang, Lestrade-lah yang menaiki tangga sewaktu kami bercakap-cakap, dan sekarang ia memasuki ruangan. Sikapnya yang biasanya bersemangat dan penuh percaya diri sekarang memudar. Wajahnya tampak gelisah dan cemas, sementara pakaiannya kusut masai. Ia jelas datang untuk berkonsultasi dengan Sherlock Holmes, karena begitu melihat kehadiran rekannya, ia tampak malu dan jengkel. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan, mempermainkan topinya dengan gugup dan bimbang, sepertinya ia tidak yakin harus berbuat apa. 

"Kasus ini sungguh luar biasa...," katanya akhirnya, "kasus yang sama sekali tak bisa di-pahami." 

"Ah, begitu menurutmu, Mr. Lestrade!" seru Gregson penuh kemenangan. "Sudah kuduga kau akan menyimpulkan begitu. Kau berhasil menemukan sekretaris itu, Mr. Joseph Stangerson?" 

"Sang sekretaris... Mr. Joseph Stangerson... mati dibunuh di Halliday's Private Hotel sekitar pukul enam tadi pagi," jawab Lestrade muram.

Sumber:link

Label:

Bab 5 Iklan Jebakan

0 komentar

Bab 5 Iklan Jebakan


Kegiatan pagi itu agak berlebihan bagi kesehatanku, dan aku merasa kelelahan di siang harinya. Setelah Holmes pergi menonton konser, aku membaringkan diri di sofa dan berusaha tidur selama satu-dua jam. Usaha yang sia-sia. Pikiranku terlalu aktif akibat semua kejadian yang telah berlangsung dan segala keanehan yang meliputinya. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat ekspresi korban yang mirip kera. Begitu mengerikan kesan yang ditimbulkan wajah tersebut sehingga rasanya aku ingin mengucapkan terima kasih pada orang yang telah mengenyahkan korban dari dunia ini. Seumur hidup, belum pernah aku melihat wajah yang lebih kejam daripada wajah Enoch J. Drebber. Sekalipun begitu, aku tetap beranggapan bahwa keadilan harus ditegakkan. Kondisi fisik korban tak boleh menjadi bahan pertimbangan di mata hukum. 

Semakin kupikirkan, aku semakin meragukan hipotesis temanku bahwa pria tersebut telah diracuni. Aku ingat bagaimana Holmes mengendus pria itu, dan mungkin mendeteksi sesuatu menimbulkan gagasan tersebut. Tapi kalau bukan racun, apa penyebab kematian pria itu? Tak ada luka atau bekas cekikan. Dan lagi, darah siapa yang berceceran di lantai? Tidak ada tanda-tanda perkelahian, korban pun tidak memiliki senjata yang mungkin digunakannya untuk melukai lawan. Selama pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab, aku jadi sulit tidur. 

Holmes pulang terlambat, sehingga aku menduga ia bukan hanya menonton konser. Makan malam telah siap di meja ketika ia tiba. 

"Luar biasa," katanya sambil duduk. "Kauingat apa kata Darwin tentang musik? Dia mengklaim bahwa kemampuan untuk menghasilkan dan menikmati musik sudah ada pada manusia lama sebelum mereka bisa berbicara. Mungkin itu sebabnya kita secara tak sadar begitu dipengaruhi musik. Ada kenangan samar dalam jiwa kita akan abad-abad ketika dunia masih dalam tahap kanak-kanak." 

"Itu gagasan yang berlebihan," kataku. 

"Gagasan seseorang haruslah sebesar alam, kalau ia ingin menafsirkan alam itu," tukas Holmes. "Ada masalah apa? Kau tampak murung. Kasus lauriston Gardens ini mengganggumu, ya?" 

"Sejujurnya, ya. Aku seharusnya lebih mampu menghadapinya setelah pengalamanku di Afghanistan. Aku sudah melihat rekan-rekanku dicincang di Maiwand tanpa kehilangan keberanianku." 

"Bisa kupahami. Ada misteri dalam hal ini yang memicu imajinasi. Jika tak ada imajinasi, tak ada ketakutan. Kau sudah membaca koran sore?" 

"Belum." 

"Laporan mengenai kasus itu cukup bagus. Tapi tidak menyinggung fakta bahwa sewaktu korban diangkat, ada cincin pernikahan wanita yang jatuh ke lantai. Memang sebaiknya begitu." 

"Kenapa?" 

"Lihat iklan ini," jawab Holmes. "Aku mengirimkannya ke setiap koran tadi pagi setelah mengetahui kasus ini." 

Holmes melemparkan koran ke arahku, dan aku melirik kolom yang ditunjukkannya. "Pagi ini di Brixton Road," demikian bunyi iklan itu, "ditemukan sebentuk cincin kawin. Cincin ini ditemukan tepatnya di jalan antara White Hart Tavern dan Holland Grove. Hubungi Dr. Watson, Baker Street No. 22IB, antara pukul delapan dan sembilan malam." 

"Maaf karena aku menggunakan namamu," kata Holmes. "Kalau kugunakan namaku sendiri, pasti ada orang iseng yang mengenalinya, dan ingin ikut campur dalam masalah ini." 

"Tak apa-apa," jawabku. "Tapi seandainya ada yang datang, aku tidak memiliki cincinnya." 

"Oh, ya, ada." Holmes memberikan sebuah cincin kepadaku. "Cukup bagus, kan? Sangat mirip." 

"Menurutmu, siapa yang akan menanggapi iklan ini?" 

"Tentu saja pria bermantel cokelat dengan sepatu berujung persegi. Kalau bukan dia sendiri yang datang, pasti temannya." 

"Apa dia tidak akan menganggap hal ini berbahaya?" 

"Sama sekali tidak. Bila perkiraanku mengenai kasus ini benar, dan aku memiliki semua alasan antuk percaya memang begitu, pria ini pasti lebih suka mengambil risiko daripada kehilangan cincinnya. Menurutku cincin itu jatuh sewaktu dia membungkuk di atas mayat Drebber, dan saat itu dia tidak menyadarinya. Dia baru sadar setelah meninggalkan rumah, dan bergegas kembali, tapi mendapati polisi telah berada di sana akibat kesalahannya sendiri, meninggalkan lilin yang masih menyala. Dia berpura-pura mabuk antuk menghindari kecurigaan yang mungkin timbul karena kemunculannya di gerbang taman. Sekarang tempatkan dirimu pada posisinya. Setelah memikirkannya kembali, pasti terlintas dalam benaknya kemungkinan cincin itu terjatuh di jalan setelah dia meninggalkan rumah. Apa yang akan dilakukannya? Dengan penuh semangat dia akan membaca semua koran sore dengan harapan iklan tentang cincin itu ada pada kolom 'Ditemukan'. Kubayangkan matanya berbinar ketika membaca iklanku. Dia pasti sangat gembira. Kenapa dia harus cemas kalau-kalau ini jebakan? Dalam pandangannya, penemuan cincin itu sama sekali tak ada hubungannya dengan pembunuhan yang dilakukannya. Dia akan datang. Percayalah padaku. Kau akan berjumpa dengannya satu jam lagi." 

"Sesudah itu bagaimana?" tanyaku. 

"Aku yang akan menghadapinya. Kau punya senjata?" 

"Ada revolver dinasku yang lama dan beberapa butir peluru." 

"Sebaiknya kaubersihkan revolver itu dan isi pelurunya. Meskipun dia tak menaruh curiga pada kita, orang yang terjepit bisa melakukan apa saja. Jadi sebaiknya kita bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan." 

Aku pergi ke kamar tidurku dan mengikuti saran Holmes. Sewaktu aku keluar kembali membawa pistol, meja makan telah dibersihkan, dan Holmes tengah melakukan kegiatan kesukaannya: menggesek biola secara sembarangan. 

"Ceritanya semakin seru," katanya sewaktu aku masuk. "Aku baru saja mendapat jawaban telegram yang kukirim ke Amerika. Pandanganku tentang kasus ini benar." 

"Yaitu...?" tanyaku penuh semangat. 

"Biolaku akan lebih merdu kalau mendapat senar baru," kata Holmes tak menjawab pertanyaanku. "Simpan pistolmu di saku. Saat dia datang, bicaralah dengan nada biasa. Selanjutnya biar aku yang mengurus. Jangan membuatnya takut dengan menatapnya terlalu tajam." 

"Sekarang sudah pukul delapan," kataku, melirik arloji. 

"Ya. Dia mungkin akan tiba beberapa menit lagi. Buka pintunya sedikit. Itu cukup. Sekarang letakkan kuncinya di sebelah dalam. Terima kasih! buku tua ini kutemukan di kios barang bekas kemarin... De Jure Inter Gentes—diterbitkan dalam bahasa Latin di Liege, Lowlands, tahun 1642. Kepala Charles masih utuh di lehernya sewaktu buku kecil bersampul cokelat ini terbit." 

"Siapa pencetaknya?" 

"Philippe de Croy, entah siapa dia. Di halaman dalam, dengan tinta yang sudah sangat pudar, tertulis 'Ex libris Guliolmi Whyte.' Aku penasaran siapa William Whyte ini. Pengacara abad ketujuh belas yang pragmatis, mungkin. Tulisannya memiliki kecenderungan ke arah hukum... Nah, kurasa orang yang kita tunggu-tunggu sudah datang." 

Terdengar dering bel. Holmes perlahan-lahan bangkit dan memindahkan kursinya ke arah pintu. Kami mendengar langkah kaki pelayan melintasi lorong, dan ceklikan keras saat selot pintu depan dibuka. 

"Di sini tempat tinggal Dr. Watson?" tanya seseorang dengan suara jelas namun agak serak. Kami tidak bisa mendengar jawaban pelayan, tapi pintu terdengar ditutup, dan ada orang menaiki tangga. Langkah kakinya tidak mantap dan agak diseret. Ekspresi terkejut melintas di wajah temanku saat ia mendengarkan bunyi langkah-langkah kaki itu. Tak lama kemudian, pintu apartemen kami diketuk pelan. 

"Masuk!" seruku. 

Yang masuk bukanlah pria yang biasa menghadapi kekerasan sebagaimana dugaan kami. Tapi seorang wanita yang sangat tua dan keriput dengan langkah terhuyung-huyung. Ia tertegun karena cahaya terang benderang yang tiba-tiba, dan setelah membungkuk memberi hormat, ia berdiri memandang kami dengan mata merah berkedip-kedip. Tangannya bergerak-gerak di saku dengan gugup, gemetar. Kulirik temanku, dan ia tampak melamun sehingga aku hanya bisa melanjutkan aktingku. 

Wanita tua itu mengeluarkan sehelai koran sore dan menunjuk iklan kami. "Ini yang mem-bawaku kemari, tuan-tuan yang baik," katanya, sambil membungkuk memberi hormat sekali lagi, "cincin kawin emas di Brixton Road. Itu cincin putriku, Sally, yang baru setahun menikah dan suaminya bekerja di kapal Union. Apa kata menantuku sepulangnya nanti, kalau dia tahu istrinya telah menghilangkan cincin kawin. Aku tak berani membayangkan reaksinya. Dia pemarah, apalagi kalau sedang mabuk. Putriku Sally semalam menonton sirkus dan..." 

"Ini cincinnya?" potongku. 

"Puji Tuhan!" seru wanita tua itu. "Sally akan menjadi wanita yang paling gembira malam ini. Itu memang cincinnya." 

"Di mana rumah Anda?" tanyaku sambil meraih pensil. 

"Duncan Street No. 13, Houndsditch. Cukup iuh dari sini." 

"Brixton Road tidak terletak di antara Houndsditch dan sirkus mana pun," sela Sherlock Holmes tajam. 

Wanita tua itu berpaling dan menatap temanku dengan cermat. "Tuan ini menanyakan rumahku" katanya. "Sally tinggal di Mayfield Place No. 3, Peckham." 

"Nama Anda..." 

"Sawyer... putriku Sally Dennis... karena dia menikah dengan Tom Dennis. Menantuku itu awak kapal yang baik, sikapnya di kapal juga baik dan terpuji. Tapi di darat, dengan wanita-wanita jalang dan toko-toko minuman itu..." 

"Ini cincinnya, Mrs. Sawyer," selaku, mematuhi syarat temanku. "Jelas ini milik putri Anda, dan aku senang bisa mengembalikannya kepada yang berhak." 

Diiringi ucapan terima kasih bertubi-tubi, wanita tua itu mengantongi cincin yang kuberikan dan tertatih-tatih menuruni tangga. Holmes melompat bangkit begitu wanita itu menghilang dan bergegas ke kamar tidurnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan mengenakan mantel dan topi. 

"Aku akan mengikuti wanita itu," katanya tergesa-gesa. "Dia pasti suruhan orang yang kita cari dan akan membawaku kepadanya. Tunggu aku." 

Pintu depan belum lagi ditutup setelah tamu kami keluar, sewaktu Holmes menuruni tangga. Saat memandang ke luar jendela, aku bisa melihat wanita tua itu berjalan terhuyung-huyung di seberang jalan, sementara penguntitnya agak jauh di belakang. 

Entah seluruh teori Holmes salah, pikirku, atau dia akan dibawa ke jantung misteri ini. 

Sebenarnya Holmes tidak perlu memintaku menunggu, karena mustahil aku bisa tidur se-belum mendengar hasil pelacakannya. 

Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan waktu Holmes meninggalkan rumah. Aku tidak tahu berapa lama ia akan pergi, jadi aku duduk saja mengisap pipa sambil membalik-balik Vie de Boheme karya Henri Murger. Pukul sepuluh berlalu, dan aku mendengar bunyi langkah kaki pelayan saat ia bersiap-siap tidur. Pukul sebelas... langkah kaki yang lebih halus melewati pintu. Berarti wanita induk semang kami juga akan tidur. Menjelang pukul dua belas, baru aku mendengar selot pintu depan dibuka. Begitu Holmes masuk, aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya bahwa ia tidak berhasil. Penyesalan dan rasa geli tampaknya saling berjuang untuk mendominasi, sampai rasa geli memenangkan pergulatan itu dan Holmes tertawa terbahak-bahak. 

"Jangan sampai orang-orang Scotland Yard itu tahu!" serunya sambil menjatuhkan diri ke kursi. Aku sudah begitu sering mengalahkan mereka seningga mereka tidak akan berhenti mengejekku untuk yang satu ini. Tapi aku masih bisa tertawa, karena aku yakin aku bisa membalas dendam pada kedua pengecohku." 

"Memangnya ada apa?" tanyaku. 

"Aku tertipu mentah-mentah, Dokter. Seperti kau tahu, aku mengikuti Mrs. Sawyer. Dia belum jauh berjalan sewaktu mulai terpincang-pincang dan menunjukkan semua tanda kalau kakinya sakit. Kemudian dia berhenti dan memanggil kereta yang melintas. Aku berusaha mendekatinya supaya bisa mendengar alamatnya, tapi ternyata aku tak perlu repot-repot karena dia menyebutkan alamatnya dengan begitu keras sehingga bisa didengar dari seberang jalan. 'Ke Duncan Street No. 13, Houndsditch!' serunya. Kelihatannya dia tidak bohong, pikirku. Itu alamat yang diberitahukannya kepada kita. Setelah dia masuk ke kereta, aku cepat-cepat melompat naik dan menumpang di belakang kereta itu. Ini keahlian yang seharusnya dikuasai semua detektif. Nah, kereta pun melaju, dan tidak berhenti hingga tiba di alamat yang dituju. Aku melompat turun sebelum kami tiba di sana, dan melangkah menyusuri jalan dengan lagak santai. Aku melihat kereta itu berhenti. Kusirnya melompat turun dan membuka pintu, menunggu sang penumpang keluar. Tapi tidak ada yang keluar. Sewaktu aku tiba di dekat kusir, kulihat dia tengah melongok ke dalam kereta yang kosong sambil menyumpah-nyumpah. Penumpangnya telah menghilang tanpa jejak, dan dia takkan mendapat upah. Ketika bertanya pada penghuni rumah No. 13, kami mendapat informasi bahwa rumah itu milik pria bernama Keswick, dan mereka sama sekali tidak mengenal Mrs. Sawyer atau Mrs. Dennis." 

"Maksudmu," seruku heran, "wanita tua yang jalannya tertatih-tatih itu mampu melompat turun dari kereta yang sedang melaju? Dan kau maupun kusir tidak melihatnya?" 

"Wanita tua apa!" kata Sherlock Holmes tajam. "Kitalah yang layak disebut wanita tua karena terkecoh olehnya. Dia pasti masih muda, laki-laki muda yang pandai berakting. Dia tahu kalau dirinya diikuti, dan dengan cerdik berhasil meloloskan diri. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pembunuh yang kita cari tidaklah bekerja seorang diri sebagaimana bayanganku semula. Dia memiliki teman yang bersedia mengambil risiko untuknya. Nah, Dokter, kau tampaknya sudah kehabisan tenaga, sebaiknya kau tidur sekarang." 

Aku memang merasa sangat lelah, jadi kuturuti saran itu. Kutinggalkan Holmes yang masih duduk di depan perapian yang menyala, menggesek biola sampai hari menjelang pagi. Alunan nadanya yang melankolis menandakan bahwa sang detektif sedang memikirkan masalah aneh yang dihadapinya.

Sumber:link

Label:

Bab 4 Cerita John Rance

0 komentar

Bab 4 Cerita John Rance


Saat kami meninggalkan Lauriston Gardens No. 3, waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Sherlock Holmes mengajakku ke kantor telegram terdekat dan mengirimkan sebuah telegram panjang. Setelah itu ia memanggil taksi, memerintahkan kusirnya untuk membawa kami ke alamat yang diberikan Lestrade. 

"Tak ada yang bisa mengalahkan bukti dari tangan pertama," kata Holmes. "Sebenarnya ke-simpulanku sudah bulat mengenai kasus ini, tapi mungkin ada baiknya kita mempelajari semua yang bisa dipelajari." 

"Kau membuatku kagum, Holmes," kataku. "Benarkah kau sungguh-sungguh yakin tentang semua rincian yang kauberitahukan tadi?" 

"Yakin sekali," jawab Holmes. "Begini, hal pertama yang kulihat sewaktu tiba di sana adalah dua jalur bekas roda kereta yang meninggalkan jejak cukup dalam di tepi jalan. Hujan sudah seminggu tidak turun, jadi jejak roda kereta itu pasti baru timbul semalam. Aku juga menemukan jejak-jejak ladam kuda, yang satu lebih jelas dari tiga lainnya, menunjukkan bahwa ladam itu masih baru. Karena jejak kereta itu timbul sesudah hujan turun semalam, dan keretanya tadi pagi tidak ada di sana—Gregson yang mengatakannya—jelas kereta itu datang pada malam hari. Berarti, kereta itulah yang membawa kedua orang yang terlibat dalam misteri ini ke rumah No 3." 

"Tampaknya cukup sederhana," kataku, "tapi bagaimana dengan tinggi badan si pembunuh?" 

Tinggi seseorang, dalam sembilan dari sepuluh bisa diperkirakan dari jarak langkahnya. Perhitungannya cukup mudah, tapi aku tak mau membuatmu bosan dengan angka-angka. Pokoknya. aku menemukan jejak-jejak orang ini di tanah liat di luar rumah dan pada debu di dalam rumah. Lalu aku menghitung tingginya dengan caraku sendiri. Kebetulan, aku menemukan hal lain untuk mengecek hitunganku. Pada saat seseorang menulis di dinding, nalurinya menyebabkan ia menulis di atas ketinggian matanya sendiri. Nah, jarak tulisan itu dari lantai adalah 180 sentimeter lebih sedikit. Mudah, bukan?" 

"Dan usianya?" tanyaku. 

"Well, kalau orang bisa melangkah sejauh 135 sentimeter tanpa susah payah, tak mungkin usianya lebih dari empat puluh. Ada genangan lumpur di taman tempat si pembunuh dan korban pernah melintas. Korban yang mengenakan sepatu bot kulit mengitari genangan itu, tapi si pembunuh yang mengenakan sepatu berujung persegi melompatinya. Jejak mereka tampak jelas, tidak ada misteri dalam hal ini. Aku hanya menerapkan beberapa rumus pengamatan dan deduksi yang kutuliskan dalam artikel majalah. Ada lagi yang membingungkanmu?" 

"Kuku jari dan Trichinopoly," kataku. 

"Tulisan di dinding dibuat dengan jari telunjuk orang itu yang dicelupkan ke dalam darah. Lewat kaca pembesar kulihat lapisan semen di dindingnya agak tergores. Ini berarti orang itu berkuku panjang. Debu yang kukumpulkan dari lantai adalah abu cerutu Trichinopoly. Aku secara khusus pernah mempelajari abu-abu cerutu, malah aku pernah menulis artikel tentang itu. Aku mampu membedakan abu cerutu atau tembakau bermerek apa pun hanya dengan sekali lihat. Dalam hal-hal seperti inilah detektif seperti aku berbeda dengan detektif biasa seperti Gregson dan Lestrade." 

"Dan soal wajah berjambang?" tanyaku. 

"Ah, itu tebakan yang berani, sekalipun aku tidak ragu akan kebenarannya. Kau tidak boleh menanyakan itu sekarang." 

Aku mengusap alis. "Aku jadi pusing," kataku. "Semakin dipikir, kasus ini terasa semakin misterius. Bagaimana kedua pria ini—kalau memang mereka berdua pria—bisa masuk ke rumah kosong? Bagaimana dengan kusir yang mengantar? Bagaimana seseorang bisa memaksa orang lain menelan racun? Dari mana darahnya? Apa tujuan pembunuhan ini, karena ini jelas bukan perampokan? Bagaimana bisa ada cincin wanita di sana? Di atas semua itu, kenapa orang kedua menuliskan kata Jerman RACHE sebelum pergi? Kuakui bahwa aku tidak mengerti bagaimana kita bisa menyatukan seluruh fakta ini." Temanku tersenyum menyetujui. 

"Kau sudah menyimpulkan kesulitan-kesulitan situasi ini dengan cukup ringkas dan baik," katanya. "Memang masih ada banyak ketidakjelasan, meskipun aku sudah membulatkan pikiran tentang fakta-fakta utamanya. Sedang mengenai penemuan Lestrade yang malang, itu hanya pengalih perhatian agar polisi melacak jejak yang salah. Mungkin si pembunuh ingin memberikan indikasi soal keterlibatan kaum sosialis Jerman dan organisasi rahasia. Tapi jelas kata itu tak ditulis oleh orang Jerman. Huruf A-nya, kalau kauperhatikan, sengaja ditulis agar mirip dengan gaya Jerman, padahal orang Jerman sendiri tidak menuliskannya sampai begitu. Ya, kita boleh yakin bahwa penulisnya bukan orang Jerman, melainkan seorang peniru yang ceroboh dan berlebihan. 

"Aku tidak akan bercerita lebih jauh mengenai kasus ini, Dokter. Kau tahu seorang pesulap tidak akan dihargai sesudah menjelaskan tipuannya, dan kalau kutunjukkan terlalu banyak metode kerjaku kepadamu, kau akan menyimpulkan bahwa aku orang yang sangat biasa." 

"Aku tidak akan berpikir begitu," kataku. "Kau orang pertama yang membuat ilmu deduksi begitu gamblang seperti ilmu eksakta." 

Wajah Sherlock Holmes memerah mendengar pujianku. Kuperhatikan ia memang sangat peka terhadap pujian atas kemampuannya sebagaimana gadis-gadis atas kecantikan mereka. 

"Akan kuberitahukan satu hal lain," ujar Holmes. "Korban dan pelaku datang dengan menggunakan kereta yang sama. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak bersama-sama dengan sikap akrab—mungkin malah bergandengan tangan. Setelah tiba di dalam, mereka mondar-mandir dalam ruangan—atau tepatnya, korban berdiri diam sementara pelaku mondar-mandir. Aku bisa membaca semuanya dari jejak sepatu mereka. Dari cara berjalannya, kulihat pelaku makin lama makin bersemangat. Langkah kakinya makin lama makin lebar. Ia mondar-mandir sambil terus berbicara sampai amarahnya meledak dan pembunuhan itu terjadi. Nah, sudah kuceritakan semua yang kuketahui, sedangkan sisanya hanyalah pelengkap. Dengan landasan kerja yang bagus itu, mari kita bergegas, karena aku ingin menonton konser Norman Neruda sore ini." 

Percakapan tersebut berlangsung saat taksi yang kami tumpangi tengah melaju melintasi serangkaian lorong serta jalan yang remang-remang dan suram. Di jalan yang paling gelap, kusir kami tiba-tiba menghentikan kereta. "Audley Court di sebelah sana," katanya, menunjuk celah sempit di jajaran bata berwarna gelap. "Akan kutunggu kalian di sini." 

Audley Court bukanlah tempat yang menarik. Lorong sempit itu membawa kami ke lapangan kecil yang dikelilingi perumahan kumuh. Kami melewati segerombolan anak yang kotor dan dekil, melewati jajaran seprai yang telah luntur, hingga tiba di Nomor 46. Pintu rumah itu dihiasi sekeping kecil kuningan dengan ukiran nama Rance. Saat menanyakannya, kami diberitahu banwa petugas tersebut sedang tidur, dan kami dipersilahkan menunggu di ruang tamu kecil. . 

Rance muncul tak lama kemudian, tampak jengkel karena tidurnya terganggu. "Aku sudah menyampaikan laporanku di kantor," katanya. 

Holmes mengambil sekeping koin emas dari sakunya dan memutar-mutarnya. "Kami pikir, sebaiknya kami mendengarnya secara langsung darimu." 

"Dengan senang hati akan kuceritakan semua yang kuketahui," kata Rance, matanya terus menatap uang emas itu. 

"Ceritakan saja bagaimana kejadiannya. 

"Rance duduk di sofa dan mengerutkan kening. seakan-akan membulatkan tekad untuk tidak melupakan apa pun dalam ceritanya. 

"Akan kuceritakan dari awal," ujarnya. "Tugasku dimulai pukul sepuluh malam dan berakhir pukul enam pagi. Pada pukul sebelas ada perkelahian di White Hart, bar yang biasanya cukup tenang di kawasan tempatku bertugas. Pada pukul satu hujan turun, dan aku bertemu Harry Murcher. Dia bertugas di kawasan Holland Grove dan kami bercakap-cakap di sudut Henrietta Street. Mungkin sekitar pukul dua, kuputuskan untuk berkeliling dan melihat situasi di Brixton Road. Tempat itu sangat kotor dan sunyi. Tidak seorang pun kutemui sepanjang jalan ke sana, walau ada satu-dua kereta yang melewatiku. Aku tengah berjalan sambil memikirkan betapa enaknya segelas gin hangat, sewaktu tiba-tiba kulihat cahaya dari jendela rumah No. 3. Nah. aku tahu bahwa kedua rumah di Lauriston Gardens itu kosong karena pemiliknya tidak melakukan apa-apa setelah penyewa terakhir meninggal karena tifus. Oleh sebab itu aku sangat terkejut sewaktu melihat cahaya di jendelanya, dan menduga ada yang tidak beres. Ketika tiba di depan pintu..." 

"Kau berhenti, lalu kembali ke gerbang taman", sela temanku. "Kenapa kau berbuat begitu?" 

Rance terlonjak, ditatapnya Holmes dengan terpana. 

"Itu benar, Sir," katanya, "dari mana Anda bisa tahu? Aku berbalik karena melihat suasana yang begitu sepi, kupikir lebih baik kalau aku mengajak teman. Aku bukan penakut, tapi bagaimana kalau hantu orang yang meninggal karena tipus itu datang? Pikiran itu membuatku merinding dan aku kembali ke gerbang untuk melihat apa Murcher masih di dekat situ. Ternyata dia tidak ada, orang lain juga tidak." 

"Tak ada seorang pun di jalan?" 

"Tidak, Sir, bahkan anjing pun tidak ada. Terpaksa aku memberanikan diri pergi ke rumah itu dan membuka pintunya. Di dalam sangat tenang, jadi aku masuk ke ruangan tempat cahaya itu berasal. Ada lilin yang menyala di rak perapian—lilin merah—dan berkat cahayanya aku melihat..." 

"Ya, aku tahu semua yang kaulihat. Kau mondar-mandir dalam ruangan itu beberapa kali, kau berlutut di samping mayat korban, lalu kau melewatinya dan memeriksa pintu dapur..." 

John Rance melompat bangkit, ekspresi wajahnya ketakutan, sementara matanya memandang curiga. "Anda bersembunyi di mana hingga bisa melihat semuanya?" serunya. "Anda tahu lebih banyak dari yang seharusnya." 

Holmes tertawa dan melemparkan kartu namanya ke atas meja. "Jangan menangkapku dengan tuduhan pembunuhan," gelaknya. "Aku salah satu pemburu dan bukan rubahnya... tanyakan saja pada Mr. Gregson dan Mr. Lestrade. Tapi, lanjutkan. Apa yang kaulakukan sesudah itu?" 

Masih kebingungan, Rance duduk kembali. "Aku kembali ke gerbang dan meniup peluitku. Murcher dan dua petugas lain seketika datang ke sana." 

"Apa jalannya masih kosong waktu itu?" 

"Well, bisa dikatakan begitu..." 

"Maksudmu?" 

Ekspresi petugas tersebut berubah, ia tersenyum lebar. "Ada orang mabuk di sana, mabuk berat. Dia bersandar di pagar taman sambil sekuat tenaga menyanyikan New-fangled Banner-nya Columbine, atau lagu yang mirip itu. Dia tidak bisa berdiri, apalagi membantu kami." 

"Kau bisa memberi gambaran tentang orang itu?" tanya Holmes. 

Rance tampak agak jengkel mendengar permintaan yang menurutnya tak ada hubungannya itu. "Pokoknya dia mabuk berat, jauh lebih parah daripada pemabuk-pemabuk yang biasa kutemui. Andai saat itu kami tak disibukkan oleh misteri tersebut, dia pasti sudah kami tangkap.” 

"Wajahnya... pakaiannya... apa kau sempat memperhatikan?" sela Holmes dengan tidak sabar. 

"Rasanya aku sempat memperhatikan, karena aku terpaksa memapahnya... aku dan Murcher bersama-sama. Dia bertubuh jangkung, dengan wajah kemerahan, berjanggut..." 

"Cukup," tukas Holmes. "Apa yang terjadi padanya?" 

"Kami kan sedang sibuk, mana ada waktu untuk memperhatikan dirinya," jawab Rance dengan nada jengkel. "Kurasa dia berhasil tiba di rumahnya dengan selamat." 

"Bagaimana pakaiannya?" 

"Mantel panjang cokelat." 

"Dia membawa cambuk?" 

"Cambuk... tidak." 

Dia pasti meninggalkannya," gumam temanku. "Kau tidak kebetulan melihat kereta atau mendengar bunyinya sesudah itu?" 

"Tidak." 

"Ini untukmu," kata Holmes, memberikan uang emas yang dipegangnya. Ia bangkit dan mengambil topinya. "Sayang sekali, Rance, kau tidak akan pernah naik pangkat. Kepalamu itu seharusnya digunakan, bukan hanya sebagai hiasan. Sebetulnya kau bisa mendapatkan pangkat sersan semalam. Orang yang kaupapah itu adalah kunci misteri semalam, dan dialah yang kami cari. Tapi tak ada gunanya meributkannya sekarang. Ayo, Dokter." 

Kami menuju ke taksi bersama-sama, meninggalkan informan kami dalam keadaan tertegun dan jelas-jelas tidak nyaman. 

"Orang tolol!" kata Holmes dengan pahit, saat kami menempuh perjalanan pulang. "Pikir-kan saja, mendapat keberuntungan sebesar itu, dan tidak meraihnya!" 

"Aku masih bingung. Memang benar bahwa deskripsi pemabuk itu cocok dengan gagasanmu tentang pihak kedua dalam misteri ini. Tapi untuk apa dia kembali ke rumah itu? Bukan begitu cara penjahat!" 

"Cincinnya, Sobat, cincinnya... dia kembali untuk cincin itu. Kalau tidak ada cara lain untuk menangkapnya, kita bisa memancingnya dengan cincin itu. Aku akan menangkapnya, Dokter—aku pasti bisa menangkapnya. Aku harus berterima kasih padamu. Kalau bukan karena doronganmu, aku mungkin tidak akan pergi, dan dengan begitu melewatkan pelajaran terbaik yang pernah kutemui. Penelusuran benang merah, eh? Bagaimana kalau kita gunakan nama itu untuk penyelidikan kita? Memang ada benang merah pembunuhan dalam kumparan kehidupan yang tanpa warna. Tugas kitalah untuk melusurinya, menguraikannya, dan meluruskannya. Sekarang mari kita makan siang, sesudah itu menyaksikan Norman Neruda. Serangan dan bungkukan badannya luar biasa. Apa judul karya Chopin yang dimainkannya dengan begitu mengagumkan itu? Tra-la-la-lira-lira-lay." 

Sambil menyandar di kereta, anjing pemburu amatir ini berceloteh bagai burung gagak, sementara aku merenungkan keunikan otak manusia.

Sumber:Link

Blogger Banua

Blogger Banua